Presiden meresmikan koridor transportasi publik terintegrasi di kawasan Jabodetabek, Jumat (31/7/2026). Proyek strategis nasional ini menghubungkan 14 stasiun kereta rel listrik, 32 halte bus rapid transit, dan 8 simpul park and ride dalam satu sistem tiket terpadu.

Dalam sambutannya, Presiden menegaskan bahwa integrasi antarmoda merupakan kunci untuk mengurai kemacetan dan mendorong peralihan masyarakat dari kendaraan pribadi ke transportasi massal. "Kita ingin mobilitas yang cepat, aman, dan terjangkau bagi seluruh warga," ujarnya.

Sistem tiket terpadu memungkinkan penumpang berpindah moda hanya dengan satu kartu, lengkap dengan aplikasi pembayaran digital yang dapat diakses dari gawai masing-masing. Tarif integrasi juga diberlakukan untuk perjalanan yang memakai lebih dari satu moda.

Direktur utama operator lintas moda menyebut kapasitas angkut harian koridor ini mencapai 1,2 juta penumpang. Ia optimistis target perpindahan 25 persen pengguna kendaraan pribadi dapat tercapai dalam dua tahun pertama operasi.

Pengamat perkotaan dari lembaga riset independen menilai langkah ini positif, tetapi mengingatkan bahwa penyediaan angkutan pengumpan di kawasan pinggiran serta keamanan pejalan kaki harus terus dibenahi agar integrasi benar-benar terasa.

Fase berikutnya akan menghubungkan koridor dengan kawasan industri dan bandara internasional, dengan target penyelesaian bertahap hingga 2028.