Konferensi iklim global tahun ini ditutup dengan kesepakatan pendanaan hijau senilai 300 miliar dolar AS per tahun untuk negara berkembang, setelah negosiasi alot yang berlangsung hingga hari terakhir.

Kesepakatan ini mencakup dukungan adaptasi, transisi energi, serta pendanaan untuk kerugian dan kerusakan akibat dampak perubahan iklim.

Delegasi negara berkembang menyebut angka ini sebagai langkah maju, meski menilai masih di bawah kebutuhan nyata yang diperkirakan mencapai satu triliun dolar AS per tahun.

Pemerintah Indonesia menyambut kesepakatan tersebut dan menyatakan siap mengajukan proposal proyek transisi energi yang telah disiapkan, termasuk pengembangan energi surya dan panas bumi.

Pengamat lingkungan menekankan bahwa kunci keberhasilan terletak pada implementasi dan transparansi penyaluran dana, bukan sekadar komitmen di atas kertas.